Spectrum of My Mind

Sunday, November 4, 2012

Elegi Cinta di Taman


Sebagai seorang pengangguran dengan titel sarjana aku harus dengan jantan mengakui bayak hal yang tidak aku mengerti dalam hidup ini.

tentang nasib, hidup, masa depan, peruntungan dan... cinta.

Apalagi cinta... kalau harus membuat sebuah rangkuman mengenai cinta maka dengan lantang aku akan berkata.

"Cinta itu bagaikan bau Bangkai di atas atap. tak terlihat. abstrak. mengganggu indera. membuat penasaran akan sumbernya. tak terjangkau. dan berbekas dalam ingatan walau sudah lama kau bersihkan sumbernya"

sama seperti kisah cintaku,

---

suatu sore beberapa waktu yang lalu seorang perempuan kulihat terduduk sendirian di rerumputan taman kota, wajahnya mengadah menatap langit, sementara buliran air mata melompat pelan pelan dari ujung dagunya.

akupun menatap langit, mencoba mencari apa yang membuat perempuan tersebut berduka. hanya arakan awan biru dengan sedikit olesan kekuningan yang melintas di atas kepalaku.

tak lama perempuan tersebut merebahkan badan nya dan berbaring di rerumputan, semerbak wangi tanah basah melewati hidungku, tanpa kusadari aku pun merebahkan diriku di bangku kursi taman yang kududuki dan mengendus muasal wangi tersebut.

tak jauh dari tempatku duduk sebuah pilar air minum tempat pejalan kaki minum di taman tampak rusak, airnya yang deras menyembur ke mana mana. membasahi jalan, pohon, dan rumput sepetak tanah botak kemerahan tak jauh dari tempat gadis tersebut.

aku mengangguk, misteri dua terpecahkan. dan lalu kembali mengangkat tubuhku ke posisi duduk.

pada saat akuakan menelaah sebab misteri yang pertama. aku menyadari perempuan yang berbaring di rumput tadi, kini sedang menghadapku seolah memperhatikanku. dengan malu malu dan sedikit mengaruk belakang kepalaku, aku tersenyum ke arahnya. dia menatapku ke arahku lama dengan wajah basah oleh air mata. dan kemudian tiba tiba ia tersenyum dengan senyum kecilnya.

aku berbunga bunga dan lalu mengalihkan pandanganku, dengan gugup aku menatap sekeliling taman. selain pilar air yang rusak dan deretan pepohonan botak menaungi tanah berumput, tak ada lagi yang layak dilihat.

jadi kembali pada perempuan tadi.

diam diam aku mengintip perempuan tersebut di ujung ekor mataku. aku terkejut mendapati ia tak lagi di sana. saat aku mengedarkan padanganku yang mencari cari aku hanya mendapatkan sosok punggung mungil berjalan pergi menyebrangi jalanan dan menghilang di balik kompleks pertokoan.

aku menghela nafas, aku bertekad esok'nya aku harus tahu namanya.

---

sudah delapan kali aku kembali ke taman itu, di jam yang sama, di bangku taman yang sama. dan Perempuan itu tak pernah terlihat lagi olehku. otak ku berkata 'aku menyerah' tapi hatiku terus membawa langkahku kembali ke tempat ini dan menunggunya,

hari itu aku memejamkan mataku sambil membayangkan pembicaran yang akan terjadi di antara kami berdua. aku dan perempuan itu. aku dengan tapanan malu malu ku dan ia dengan mata besarnya yang basah, aku membayangkan banyak pertanyaan yang keluar dari mulutku, dan ia akan menjawabku dengan suara lembut yang mendayu.

dengan sedikit medesah aku membuka mataku dan bangkit untuk kembali ke apartemenku di belakang taman.

seseorang duduk di rerumputan di hadapanku, aku hanya berhadapan dengan punggungnya yang mungil. dengan berdebar aku menghampirinya dan duduk tak jauh dari sampingnya di rerumputan. saat aku melirik ke arahnya lagi lagi butiran air mata membasahi pipinya.

butir-butir air mata mengalir bagai tetesan air hujan, deras dan tak ada hentinya, Sesekali terdengar sedu sedan nya, bahkan tanpa malu-malu gadis tersebut menghapus ingus menggunakan kain di lengan bajunya,

Aku terpana menatapnya.

Di tengah taman kota yang cukup ramai ini, dengan polosnya gadis tersebut menangis. Dengan ragu namun di penuhi rasa ingin tahu, aku ingin bertanya.

"Kenapa?" kalimat itu tidak pernah keluar dari bibirku karena tiba tiba saja
perempuan itu menatapku dengan sepasang mata abunya  yang tampak begitu besar dan basah.

"Apa kau terluka?"
"Siapa nama mu?"
"Apa kau tersesat?"
"Siapa namamu?"
"Apa kau marah?"
"Siapanamamu?"
"Apa kau kehilangan seseorang atau sesuatu yang berharaga?"
"Nama mu siapa?
"Apa kau merasa hidup mu begitu sulit sehingga kau tak kuasa membendung tangismu di tempat seramai ini?"

Sejuta pertanyaan seolah mengelilingi benakku, tapi tak satupun keluar dari bibirku yang menutup dan membuka tanpa suara. Gadis tersebut terdiam sesaat, seolah menungguku menanyakan pertanyaan-pertanyaanku, Aku terdiam seolah menunggunya menjawab pertanyaanku yang tak bisa terucapkan, Ia menatap kosong ke arah rerumputan hijau di hadapannya, Aku menengok ke sekeliling taman yang tampak kosong di siang hari ini.

Dan waktu pun berlalu...

Senja menyentuh pelupuk horizon, dan cahaya meredup bagai soft out di atas panggung pentas, Di kejauhan tampak suara panggilan beribadah berkumandang dengan lantang.

Aku melirik ke arah gadis tersebut, yang sedari tadi hening dan sesekali memperdengarkan sisa isakannya, air matanyapun masih terus mengalir membasahi wajahnya dalam diam.

Ia berbalik dan menatap wajahku, ia dengan tiba-tiba tersenyum begitu lebar dan indah, bagai mentari terbit di garis batas laut yang di selimuti kabut.

Ia pun bangkit, meraih tongkat perak merahnya dan beranjak pergi, aku menatapnya dengan heran.

Apa masalahnya telah selesai?
Apakah ia baik-baik saja?
Apakah seharusnya aku bertanya?
Mengapa dia menangis?
Mengapa dia tersenyum?
Siapa Namanya?

Aku tak mengerti,
Dan seulas senyum bahagia menghiasi bibirku yang sedari gadis tersebut tersenyum padaku, seolah tak mau pergi dari wajahku.
Aku sungguh tidak mengerti...

---

Selama tujuh bulan, setiap minggu, jam yang sama, dan tempat yang sama. aku selalu kembali ke taman itu. tapi tak pernah sekalipun aku bertemu lagi dengan nya.

tapi tak mengapa, aku akan tetap menunggunya di bangku taman ini.

sambil memegang secarik kertas bertitik titik yang kubuat bertuliskan "Boleh kutahu Nama mu?",

Karena seperti kataku, "Cinta itu bagaikan bau Bangkai di atas atap. tak terlihat. abstrak. mengganggu indera. membuat penasaran akan sumbernya. tak terjangkau. dan berbekas dalam ingatan walau sudah lama kau bersihkan sumbernya"

2 comments:

  1. Cinta itu bagaikan bau Bangkai di atas atap. tak terlihat. abstrak. mengganggu indera. membuat penasaran akan sumbernya. tak terjangkau. dan berbekas dalam ingatan walau sudah lama kau bersihkan sumbernya <--- Tepat! Walaupun bangkainya sudah tidak ada, semilir aromanya kadang masih meninggalkan jejak. Jadi, siapa namanya? :)

    ReplyDelete
  2. belum tahu, belum sempat aku bertanya :)

    ReplyDelete