adalah kalimat pembuka sebuah cerita di mulai...
Sama seperti awal cerita ini,
Alkisah... Disebuah gedung tinggi yang megah, di lantai 10, di pojokan lorong selatan, di kamar nomor 3. Ada sebuah ruangan begitu mewah dan indah, di dalam ruangan itu semuanya dibeli dengan cita rasa yang tinggi dan uang yang banyak. dari permadani, tirai, meja, lemari hingga sofa dan mangkuk kacanya membutuh kan uang dengan jumlah minimal 8 digit angka.
Dalam ruangan yang begitu luar biasa tersebut terdapat sebuah kaca jendela yang terbentang sepanjang dinding ruangan, di bawah jendela yang berpermandangan kota yang sibuk dan langit yang membiru tersebut, duduklah sekor kucing betina berumur 6 tahun.
Selesai.
...
...
Pikir sang kucing.
Sang kucing yang bermata keemasan, berekor panjang, dengan bulu bermotif paduan 3 corak warna oranye hitam putih dan tebal bagaikan jaket bulu angsa tersebut sudah duduk disana tanpa bergerak selama 9 jam 13 menit 2 detik, walaupun dia tidak menghitungnya dengan persis.
karena dia tidak mengerti akan konsep waktu.
Lama.
...
Pikir sang kucing.
sang kucing yang menatap keluar jendela dengan bosan sedang berkecamuk pikirannya, isinya berkisar di antara, kenapa mangkuknya masih saja kosong walupun dia sudah sangat lapar sedari tadi, siapakah nama nya karena budaknya selalu memanggilnya dengan sebutan yang berbeda setiap kali mereka melihatnya dari 'sweety' 'eeh' 'meong' 'meng' ' haaah' 'kucing' 'puss' 'aaaaaaaaaaaa' dan banyak lagi lainya, burung-burung itu terlihat lezat, apa itu yg bergerak gerak ke sana kemari dan berhenti karena tiang yang berkelap kelip, lapar, banyak sekali anjing, berbahaya -berbahaya, apakah jenisnya benar bernyawa sembilan karena sang kucing yakin tak lama lagi nyawanya akan berkurang satu karena mati kelaparan, ah jaket bulu budaknya tampak nyaman untuk ditiduri, ikan ikan itu terlihat lezat apa budak nya akan berteriak teriak lagi seperti minggu lalu saat sang kucing mencoba meraih satu, banyak sekali budak budak yang berjalan di bwah sana, lapar, bosan, lapar, mengantuk, apa itu suara binatang pengerat yang berderik derik sedari tadi kedengarannya di balik tembok dekat mangkuk makanan, lapar.
Sekali.
...
Pikir sang kucing.
Sang kucing merasa tidak bahagia, walau banyak sekali makanan yg bisa di makannya dalam ruangan itu, semuanya berada dalam dalam kaleng kecil dengan kunci besi pembukanya dalam lemari tinggi dengan pegangan bulatnya, tikus tikus di balik tembok, ikan ikan dalam kurungan kaca, dan burung burung di luar jendela. Sang kucing tidak bahagia, karena setiap kali dia melihat ke bawah kucing kucing lain terlihat kecil, kurus, tidak terurus, kotor namun melenggang dengan santai, berlarian ke sana kemari dengan riang, dan berteriak teriak saling sahut menyahut di malam hari dengan nyaring, mereka terlihat bahagia, sementara sang kucing yang gemuk, bersih, terurus, kadang terantai, di peluk, di sikat, di mandikan, di beri makanan lezat, kadang dikurung di kurungan sempit. Diberikan banyak benda, ditinggal dalam ruangan dalam waktu lama, diawasi dengan pandangan curiga, di belai lembut, di tinggalkan. Sang kucing merasa heran mengapa dia tidak bahagia.
Sendiri.
...
Pikir sang kucing.
sang kucing sudah memutuskan dia akan keluar dari ruangan, dan mencari kucing kucing kecil di bawah sana dan bertanya, apa yang membut mereka begitu berbeda dengannya. Bagaimana dengan perutnya yang lapar, ruangan yang bercita rasa tinggi dan memerlukan uang banyak yang tercerai berai, dengan pertanyaan apakah benar jenisnya memiliki nyawa 8 dan jendela nya yang terbuka begitu lebar hingga banyak benda yang tertiup masuk bersamaan dengan angin, debu, dan suara suara bising, akan dia pikirkan nanti, selesai dia bertanya, dan saat dia pulang nanti.
Jika.
...
Sang kucing melompat.
Membuka matanya saat dia selesai berputar di udara dan mendarat dengan keempat kakinya yang kuat.
Budak budak itu menatapnya dengan kaget.
Mereka menatapi tubuhnya, sang kucing yang baru saja mendarat dengan lancar pada lompatan pertamanya dari jendela ruanganya yang berada di lantai 10, dengan membawa 70 Kg berat tubuhnya sekalian, mengangkat kepalanya dengan bangga,
Sang kucing pun berlari dengan seringai di wajahnya.
Tanpa menghiraukan panggilan namanya yang diteriakan budak budak itu.
'Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa'
Ada kucing lain yang harus dia tanyai.
...
...
...
Mungkin nanti setelah dia makan.
Bebas.
picture source by google
