Dalam sebuah bilik kamar kusam, Gadis menyembunyikan wajahnya di balik untaian rambutnya yang legam, sobekan dibibirnya sudah berhenti menggucurkan darah, dan lebam di sebelah matanya sudah berhenti berdenyut, tapi sayangnya hati Gadis terlanjur berkeping dan berserakan di kaki Pria. Pria… Bahkan Menggingat namanya saja mampu membuat tubuh Gadis bergetar dengan hebatnya.
Gadis bukan perempuan lemah atau manja, dia bekerja menghidupi dirinya sendiri dan sesekali keluarganya. Gadis sanggup tersenyum menghadapi pelanggan yang datang dengan amukan dan keluhan. Suara yang merdu akan dengan tenang menjelaskan, gerakannya yang santai dan senyumnya yang menyenangkan bahkan mampu membuat hati sekesal apapun luluh dan mendengarkan.
Tapi kini Gadis bungkam seribu bahasa, bukan karena luka di bibirnya atau nyeri di sekujur tubuhnya, tapi oleh rasa takut yang enggan meninggalkan hatinya. Oleh rasa ngeri yang begitu mencekam hingga Gadis hanya berbaring di lantai sambil menatapi jendala kamar yang kusam, tergeletak lebih tepatnya, tergeletak sembari memandangi kegelapan malam.
Ibu pasti kawatir, menunggu di depan jendela sambil memperhatikan jam di dinding. Atau… mungkin menyapu beranda sambil memelototi jalanan. Apa Ibu sudah makan?
Lengan melayang dan menghantam belakang kepala Gadis, Gadis hanya mengernyitkan dahinya menahan sakit dan kembali menatap kegelapan. Samar samar terdengar suara Pria itu mengeluh, menderita, dan betapa tidak adilnya dunia pada dirinya, Gadis menatap kosong ke luar jendela,
Ayah pasti sudah pulang dari pabrik, tubuhnya yang menua pasti lelah. Dan kerutan di keningnya kian hari kian bertambah, apa Ayah sehat-sehat saja?
Segenggam rambut Gadis tiba tiba tertarik ke atas, dengan sedikit melenguh Gadis melirik ke arah Pria. Pria itu tak henti hentinya menggoceh, mencibir dan banyak sekali kata jangan yang terucap dari mulutnya.
‘Jangan melirik, jangan keluar, jangan bicara, jangan lari, jangan tinggalkan, jangan menangis, jangan berbohong, jangan berhenti, jangan berkawan, jangan tertawa, jangan berbakti, jangan melanggar, jangan bantah, jangan, jangan, jangan, jangan’
Terlalu lelah untuk berdebat, Gadis membungkam mulutnya. Tatapanya kosong dan iapun mengurung hatinya, ingin melangkah pergipun tangan tangan hitam menggenggam lehernya, tak sanggup Gadis meminta pertolongan seperti tak Sanggup Sahabat menatap pandangan kosongnya, ia hanya tergeletak bagai seongok kain lap di lantai kotor. Banyak pedih, banyak pilu, banyak tangis dan akhirnya kembali pada jangan.
Semua bertanya mengapa Gadis tak Melangkah pergi?
Kenapa dia menelan semua jangan?
Dan kenapa matanya menghitam, bibirnya sobek dan tubuhnya lebam?
Apa yang membuatnya bertahan apa yang menahannya, apa yang membuatnya tertahan?
Gadis terdiam, menjawab pertanyaan mereka dulu hanya dengan bisu, sampai kini pun Gadis membisu tak Sanggup hatinya menjawab, pedih hatinya saat melinangan lah airmata Sahabat saat melihat lebamnya, bahkan lebih nyeri dari kepalan tangan ke perutnya. berdarah darah hatinya saat ia menyaksikan dengan terluka Sahabat melepas Gadis pergi menuju nerakanya, bahkan lebih menyakitkan dari makian dan hinaan yang ia telan kemudian di dalam nerakanya.
Dan dalam penghinaan, dan dalam nerakanya Gadis membisu, walau tubuhnya terantai, pikirannya berkelana dengan para Sahabat, membayangkan pelukan dan senyum mereka, dalam diamnya Gadis mengulurkan tangan pada kegelapan, dengan setetes linangan air mata, Gadis membayangkan genggaman tangan Sahabat menghangatkan jemarinya, dan dalam tangisnya Gadis terlelap sembari menggenggam kosong dan tergeletak.
-Di kegelapan malam di luar jendela kusam, Sahabat mengulurkan tangannya dan menunggu Gadis bangkit dan meraih jemari hangatnya sambil berlinangan air mata pula.
Ini tanganku, Cha! Genggam dan jangan pernah lepaskan lagi yah :))) *baca ini sambil dengerin lagu Frau yang sahabat langsung abis persediaan tisu setahun*
ReplyDelete*holding your hand tightly
ReplyDelete