Akupun hanya diam dan menatapimu, bergumam pelan dalam benakku
kau tau ada banyak kisah tentangmu dalam diamku...
Adakalanya aku melihat kau berada pada ambang sepi, kaupun lelah untuk bermimpi,
kau meniti, lupa untuk peduli atau bahkan hanya untuk kembali.
Kaupun muak pada jemu, saat kau tau ini hanya dalam batasan semu,
kau sadari ia tak akan pernah untukmu, walau dengan yakin telah kau muntahkan segalamu.
Kaupun benturkan rasamu pada dinding. Teredam ada namun tak pernah kembali.
pantulan pantulan bayangan yang dulu kau simpan, kini hanya tertinggal sampah, terongok, terlupakan.
Sekarang kembali dalam sepimu,
kamu pertanyakan apa yang kau beri dan apa yang tak kau dapat kembali.
Yang dulunya bongkahan cahaya berharaga yang kau jaga tetap menyala,
kini hanya tersisa gumpalan hitam yang melubangi hati dan terkadang jiwa.
-Cinta tidak harus memiliki-
itu yang mereka teriakan pada kuping berdarahmu, aku menggeleng, karena
Pada akhirnya hanya akan menghitamkan apa yang dulunya tak berwarna.
Karena kau aku manusia terlahir untuk memiliki atau iri seperti yang tertulis dalam darahnya.
Namun walau seolah tahu
kau dan aku tetap berjalan dengan lubang di atas dada,
jangan kawatir, Gengam tanganku dalam sepimu kawan, mari kita menghitam bersama...
No comments:
Post a Comment