Spectrum of My Mind

Tuesday, September 25, 2012

Asap Hitam


Crak Crak Crak

Suara Air menetes perlahan menumbuk piring seng di atas pencucian serupa panggilan sendu, sementara api meretas perlahan menjilati batang batang kering yang saling bertumpukan di kolong tungku di sudut ruangan. Dengan pandangan kabur Nina menatapinya sambil menggoyang ceret air dengan perlahan. Di sekelilingnya asap hitam seolah menjalar bagai ular yang mencari kebebasan, kebebasan yang terhebus angin dingin dari jendela yang terbuka tiba tiba.


“Tong ngalamun mun masak jeung suluh Neng, komo dekeut Lisah” tegur Ambu perlahan sambil meletakan kresek belanja hitam di bawah jendela, Nina hanya mengagguk sementara ceret di tangannya berteriak teriak memintanya untuk berhenti.

“Wandi teh pulang ti Bandung pan?” Ambu mengusap Kepala anak semata wayang nya perlahan sambil mengambil ceret dari tangannya. Perlahan Nina bangkit dan dengan sedkit senyuman di bibirnya dia berjalan keluar.

Ambu menggelengkan kepalanya.

Nina berjalan dengan pandangan mengawang, paras ayunya di bingkai legam rambut panjang yang terurai sampai ke pinggul. tubuh sintalnya dibungkus gaun pudar berwarna merah jambu yang tampak menipis dan sedikit terurai benang-benangnya. tapi entah mengapa terlepas dari rupanya yang sudah memudar lilitan kain katun kasar tersebut tampak elok memeluk tubuh Nina.

Saat terduduk di hadapan kaca buram di bilik kamarnya, Nina menatapi pantulan wajahnya dengan seksama. hari ini suaminya pulang dari kota. Nina harus bersiap, dengan jemari lentik Nina meraih sikat rambut, ia menyikat rambut nya dengan telaten. disikatnya tiap helai sampai legam kusam pun berubah mengkilap. setelah selesai menyikat rambutnya. Nina menabur sedikit bedak putih di seluruh wajahnya yang kecoklatan. tidak lupa seulas gincu merah di bibir mungilnya. Nina tersenyum pada kaca yang membalas senyumannya dengan manis.

Sambil berdandan di kepalanya terbayang-bayang wajah Wandi suaminya, Pria yang paling Nina cintai. Cinta Nina bahkan sampai menghentikan panggilan jiwa Nina untuk mengajar di kampung, suaminya tidak suka Nina bekerja. Menurut Wandi istri harus tinggal di rumah dan biar suami yang bekerja. Nina menurut, Nina berhenti mengajar. Wandi tidak suka wanita yang telalu banyak bicara, Nina menurut, dia diam dan tak banyak berucap, Wandi senang makan enak, Nina memasak setiap pagi, siang dan malam. terlepas Wandi memakannya atau tidak Nina tetap menyediakannya di atas meja.

Sudah tiga tahun Nina tinggal di rumah dan menjadi istri yang baik seperti yang di inginkan suaminya. Sudah tiga tahun pula Wandi suaminya bekerja di Bandung untuk menghidupi mereka berdua, menurut Nina Wandi pria yang bijaksana, Nina bahagia mencintainya.

“Nina... Nina.. “ suara Ambu yang parau terdengar memecah lamunan Nina, dengan bingung Nina menoleh ke arah tirai pembatas ruang kamarnya. Ambu berdiri di sana sambil meremas remas ujung kain sampingnya. Nina memiringkan kepalanya seolah bertanya pada Ambu “ya?”

“Gulam ingin bertemu...” jawab Ambu sambil menunduk. Walau Nina Bingung mengapa adik suaminya tiba-tiba ingin bertemu dengannya, Nina hanya tersenyum.

Saat melewati Ambu, dengan lembut Nina mengusap wajah Ambu yang mengkerut habis oleh usia, seolah-olah tanpa suara Nina ingin menenangkan entah kegelisahan apa yang memakan pikiran ibunya.

Nina berjalan ke depan, sementara Ambu masuk ke dalam kamar dan menangis dalam diam.

==//==

Kicau burung yang riang seolah mengejek Gulam, dengan gelisah Gulam menjatuhkan putung rokoknya dan menginjaknya dengan kasar di tanah. Sesekali Gulam melirik ke belakangnya seolah menantikan seseorang, saat menyadari tak ada seorang pun di sana, dengan tidak sabar Gulam mengalihkan pandangan dan memperhatikan ke sekeliling bilik di hadapan nya. Rumah kayu kecil dengan halaman beralaskan tanah merah yang kadang basah oleh hujan. Rumah tipikal di kampung mereka. Tak ada bunga di pekarangan hanya tanah merah yang di pagari potongan bambu. Polos, sederhana, dan... mem’bumi. Seperti Nina, persis seperti Nina pikir Gulam.

Saat desiran kain terdengar sayup sayup dan pintu kayu terbuka lebih lebar, Gulam mengangkat wajahnya dan mendapati dirinya bertatapan dengan Nina. Gulam menelan ludahnya, mengusap tangannya yang berkeringat dan tak berhenti menatapi Nina. Nina mengangguk menyapa dan seolah berkata “Gulam?”

Gulam balas mengangguk, “Saya datang atas nama Kang Wandi teh..”

Nina mengerutkan keningnya, dan menyilahkan Gulam masuk dengan lambaian tangannya, Gulam menelan ludah lagi dan menggeleng,

“Saya tidak akan lama teh,” ujarnya sambil mengaduk aduk tas kulit di pinggulnya, “Saya cuma mau menyampaikan ini...” Gulam menyodorkan setumpuk kertas dan dengan tergesa mengepalkannya di kedua telapak tangan Nina.

Nina membuka lembaran lembaran kertas tersebut, dan lalu membaca tiap helainya dengan teliti. Semakin lama terlihat tangannya semakin bergetar dengan hebat. Dan semakin lama Gulam semakin gelisah,

Teteh tidak usah jawab sekarang, biar nanti saya datang lagi” ujar Gulam dengan tergesa. Nina mengalihkan pandangannya dari lembaran lembaran kertas di tangannya dan menatap Gulam. Gulam meringgis dalam hati, mata polos yang membulat besar dihadapannya kabur oleh air sementara sisanya meleleh di pipi, menyisakan alur air di antara putih bubuk bedak di wajah Nina.

Gulam ada saat Wandi kakaknya menikahi Nina. Gulam melihat dan bahkan bisa merasakan besar cinta Nina pada Wandi. Nina sang istri bahkan sampai menjadi buah bibir di kampung mereka. sebuah contoh teladan bagi tiap ibu untuk memberi petuah pada anak gadis mereka. Cantik, someah, penurut, pandai masak, pintar. ‘Pokoknya... Istri idaman’ Ujar Umi pada nya setiap kali Umi memberi Gulam wejangan mengenai calon istri. Gulam selalu mengangguk menyetujui Umi, karena dalam hatinya pun Nina adalah Istri Idaman’nya.

Kenangan Gulam terhadap Umi yang telah pergi selamanya ke pelukan yang maha kuasa terpotong jemari lentik yang terulur di hadapannya, Gulam menatapi jemari tersebut, lupa dengan alasan mengapa jemari tersebut terulur dihadapannya. Saat Gulam memberanikan diri dan menoleh ke arah wajah Nina. Gulam tertegun. Pandangan Nina jauh ke belakang pundaknya. Gulam menoleh dan sebuah sedan hitam parkir jauh di ujung jalan.

“Saya sudah di tunggu, nanti saya kembali lagi teh..” Gulam berbalik dan bersiap untuk lari, saat lengannya terhentak Gulam tersadar Nina sedang mencengkram erat lengannya.

Teh?” Gulam bertanya dengan perlahan, Nina yang masih menatapi sedan hitam tersebut menggelengkan kepalanya, kemudian dengan bercucuran air mata, Nina melambaikan kertas yang berjejalan di sebelah tangannya. Seolah-olah berkata “tunggu...”

Gulam berhenti dan lalu menunggu, sementara Nina berjalan masuk dengan gontai.

Tiga puluh menit berlalu, Gulam sudah sampai pada batang rokoknya yang ke tiga, saat dengan tidak sabar ia menyalakan batang rokok yang ke empat, tiba-tiba isakan pendek sampai ke telinganya, dengan tersentak Gulam menoleh. Dan rokok yang baru akan di nyalakannya terselip keluar dari bibirnya yang menganga. Ambu berdiri di belakangnya sambil memeluk bungkusan hitam di dadanya. Air mata membajiri pipi nya.

“Am-Ambu?” Gulam terbata menyapa wanita tua di hadapannya.

“Nina bilang, suruh dia keluar dari mobil..” isak Ambu pada Gulam. Tangannya yang bergetar menyodorkan kresek hitam berisi bundalan kertas pada Gulam.

Gulam mengangguk lalu berbalik dan berjalan menghampiri Mobil.

Terdengar seretan langkah Ambu mengikutinya dari belakang.

Gulam mengutuki Kakak’nya dalam hati. Membayangkan kehancuran hati wanita tua di belakangnya, dan juga Nina.

Gulam berjalan, dan terus berjalan sampai ia berhenti di samping sedan hitam di ujung jalan. Ia mengetuk pintu mobil. Saat Wandi dengan enggan keluar. Gulam mengangkat kresek tersebut ke arah wajah kakaknya dengan kasar.

Bau tajam menyengat hidung Gulam.

Sementara Wandi terpaku.

Dan teriakan “Nina!!” dari Ambu membelah senyap.

Di belakangnya Nina berjalan ke arah mereka dengan tenang. Sebuah senyum kecil menghiasi bibirnya, dan Merahnya api melahap tubuhnya dengan rakus sementara asap hitam melarikan diri dari panasnya kobaran ke pelukan birunya angkasa.

==//==

‘...kang Wandi tidak usah kawatir, walau saya menolak di madu. saya sudah tanda tangani semua surat cerai. Jadi kang Wandi tetap bisa menikah lagi dengan Murni, Walau bekas majikan, saya tahu dia begitu baik pada akang.

Kang Wandi bilang cinta saya terlalu berat, kang Wandi bilang cinta saya terlalu mengikat, kang Wandi bilang mencintai hanya saya tidak membuat kang Wandi bahagia.

Saya ingin kang Wandi bahagia.

Mungkin cinta saya ini KELAK akan terbakar diam-diam oleh waktu dan hanyut oleh cemburu yang lari bersama asap hitam, hingga menyisakan arang ihklas dan sedikit sisa sisa debu benci di hati..

Jadi saya janji.. mulai besok saya tidak akan mencintai kang Wandi lagi.

Sepotong kertas kusam berbau tajam dengan coretan tangan yang memudar tiba-tiba terkepal dengan kasar dalam genggaman.

Setetes air mata lolos dari sudut mata.

Cinta pertamanya terbakar cepat. Secepat api melalap tubuh wanita yang berbaring berbalut kain kasa dari ujung kaki sampai kepala dihadapannya.

Gulam menyentuh bibir mungil yang dulu merah dan kini menghitam dengan lembut.

Ditemani detik jam, deru mesin, dan secarik kertas Gulam kembali menunggu dan kini... sedikit berharap.








---------------------

Versi "Love Stink" ku permintaan nenci ds, silahkan di nikmati selagi hangat... 


3 comments:

  1. Ish Love Sticknya menyedihkan! Kejamnya si Wandi itu!!!!!!!!!!!!

    ReplyDelete
  2. iyah emang kejam!! dan nina itu keren...

    btw... base on true story loh. sediih...

    ReplyDelete
  3. gulam diam diam suka ma nina dan mau nunggu nina lupain si tai wandi. sorry harsh word. hoho.... sayangnya cerita ini gampang ditebak..

    ReplyDelete