Crak Crak Crak
Suara Air menetes perlahan
menumbuk piring seng di atas pencucian serupa panggilan sendu, sementara api
meretas perlahan menjilati batang batang kering yang saling bertumpukan di
kolong tungku di sudut ruangan. Dengan pandangan kabur Nina menatapinya sambil
menggoyang ceret air dengan perlahan. Di sekelilingnya asap hitam seolah
menjalar bagai ular yang mencari kebebasan, kebebasan yang terhebus angin
dingin dari jendela yang terbuka tiba tiba.
“Tong ngalamun mun masak jeung suluh Neng, komo dekeut Lisah” tegur Ambu perlahan sambil meletakan kresek belanja hitam di bawah jendela,
Nina hanya mengagguk sementara ceret di tangannya berteriak teriak memintanya
untuk berhenti.
“Wandi teh pulang ti Bandung pan?” Ambu mengusap Kepala anak semata
wayang nya perlahan sambil mengambil ceret dari tangannya. Perlahan Nina
bangkit dan dengan sedkit senyuman di bibirnya dia berjalan keluar.
Ambu menggelengkan kepalanya.
Nina berjalan dengan pandangan
mengawang, paras ayunya di bingkai legam rambut panjang yang terurai sampai ke
pinggul. tubuh sintalnya dibungkus gaun pudar berwarna merah jambu yang tampak
menipis dan sedikit terurai benang-benangnya. tapi entah mengapa terlepas dari rupanya yang sudah memudar lilitan kain
katun kasar tersebut tampak elok memeluk tubuh Nina.
Saat terduduk di hadapan kaca
buram di bilik kamarnya, Nina menatapi pantulan wajahnya dengan seksama. hari
ini suaminya pulang dari kota. Nina harus bersiap, dengan jemari lentik Nina meraih sikat rambut,
ia menyikat rambut nya dengan telaten. disikatnya tiap helai sampai legam kusam
pun berubah mengkilap. setelah selesai menyikat rambutnya. Nina menabur sedikit bedak putih di seluruh wajahnya yang kecoklatan. tidak lupa seulas gincu merah di bibir mungilnya. Nina tersenyum pada kaca yang membalas senyumannya dengan
manis.
Sambil berdandan di kepalanya terbayang-bayang wajah Wandi suaminya, Pria yang paling Nina cintai. Cinta Nina bahkan sampai menghentikan
panggilan jiwa Nina untuk mengajar di kampung, suaminya tidak suka Nina
bekerja. Menurut Wandi istri harus tinggal di rumah dan biar suami yang bekerja.
Nina menurut, Nina berhenti mengajar. Wandi tidak suka wanita yang telalu banyak bicara, Nina menurut, dia diam dan tak banyak berucap, Wandi senang makan enak, Nina memasak setiap pagi, siang dan malam. terlepas Wandi memakannya atau tidak Nina tetap menyediakannya di atas meja.
Sudah tiga tahun Nina tinggal di rumah dan menjadi istri yang baik seperti yang di inginkan suaminya. Sudah tiga tahun pula Wandi suaminya bekerja di Bandung untuk menghidupi mereka
berdua, menurut Nina Wandi pria yang bijaksana, Nina bahagia mencintainya.
“Nina... Nina.. “ suara Ambu
yang parau terdengar memecah lamunan Nina, dengan bingung Nina menoleh ke arah
tirai pembatas ruang kamarnya. Ambu berdiri di sana sambil meremas remas ujung
kain sampingnya. Nina memiringkan
kepalanya seolah bertanya pada Ambu “ya?”
“Gulam ingin bertemu...” jawab
Ambu sambil menunduk. Walau Nina Bingung mengapa adik suaminya tiba-tiba ingin
bertemu dengannya, Nina hanya tersenyum.
Saat melewati Ambu, dengan
lembut Nina mengusap wajah Ambu yang mengkerut habis oleh usia, seolah-olah
tanpa suara Nina ingin menenangkan entah kegelisahan apa yang memakan pikiran
ibunya.
Nina berjalan ke depan,
sementara Ambu masuk ke dalam kamar dan menangis dalam diam.
==//==
Kicau burung yang riang seolah
mengejek Gulam, dengan gelisah Gulam menjatuhkan putung rokoknya dan
menginjaknya dengan kasar di tanah. Sesekali Gulam melirik ke belakangnya
seolah menantikan seseorang, saat menyadari tak ada seorang pun di sana, dengan
tidak sabar Gulam mengalihkan pandangan dan memperhatikan ke sekeliling bilik
di hadapan nya. Rumah kayu kecil dengan halaman beralaskan tanah merah yang
kadang basah oleh hujan. Rumah tipikal di kampung mereka. Tak ada bunga di
pekarangan hanya tanah merah yang di pagari potongan bambu. Polos, sederhana,
dan... mem’bumi. Seperti Nina, persis seperti Nina pikir Gulam.
Saat desiran kain terdengar
sayup sayup dan pintu kayu terbuka lebih lebar, Gulam mengangkat wajahnya dan
mendapati dirinya bertatapan dengan Nina. Gulam menelan ludahnya, mengusap
tangannya yang berkeringat dan tak berhenti menatapi Nina. Nina mengangguk
menyapa dan seolah berkata “Gulam?”
Gulam balas mengangguk, “Saya
datang atas nama Kang Wandi teh..”
Nina mengerutkan keningnya, dan
menyilahkan Gulam masuk dengan lambaian tangannya, Gulam menelan ludah lagi dan
menggeleng,
“Saya tidak akan lama teh,”
ujarnya sambil mengaduk aduk tas kulit di pinggulnya, “Saya cuma mau
menyampaikan ini...” Gulam menyodorkan setumpuk kertas dan dengan tergesa
mengepalkannya di kedua telapak tangan Nina.
Nina membuka lembaran lembaran
kertas tersebut, dan lalu membaca tiap helainya dengan teliti. Semakin lama
terlihat tangannya semakin bergetar dengan hebat. Dan semakin lama Gulam
semakin gelisah,
“Teteh tidak usah jawab sekarang, biar nanti saya datang lagi” ujar
Gulam dengan tergesa. Nina mengalihkan pandangannya dari lembaran lembaran
kertas di tangannya dan menatap Gulam. Gulam meringgis dalam hati, mata polos
yang membulat besar dihadapannya kabur oleh air sementara sisanya meleleh di
pipi, menyisakan alur air di antara putih bubuk bedak di wajah Nina.
Gulam ada saat Wandi kakaknya
menikahi Nina. Gulam melihat dan bahkan bisa merasakan besar cinta Nina pada
Wandi. Nina sang istri bahkan sampai menjadi buah bibir di kampung mereka.
sebuah contoh teladan bagi tiap ibu untuk memberi petuah pada anak gadis
mereka. Cantik, someah, penurut,
pandai masak, pintar. ‘Pokoknya... Istri idaman’ Ujar Umi pada nya setiap kali
Umi memberi Gulam wejangan mengenai calon istri. Gulam selalu mengangguk
menyetujui Umi, karena dalam hatinya pun Nina adalah Istri Idaman’nya.
Kenangan Gulam terhadap Umi
yang telah pergi selamanya ke pelukan yang maha kuasa terpotong jemari lentik
yang terulur di hadapannya, Gulam menatapi jemari tersebut, lupa dengan alasan
mengapa jemari tersebut terulur dihadapannya. Saat Gulam memberanikan diri dan
menoleh ke arah wajah Nina. Gulam tertegun. Pandangan Nina jauh ke belakang
pundaknya. Gulam menoleh dan sebuah sedan hitam parkir jauh di ujung jalan.
“Saya sudah di tunggu, nanti
saya kembali lagi teh..” Gulam
berbalik dan bersiap untuk lari, saat lengannya terhentak Gulam tersadar Nina sedang
mencengkram erat lengannya.
“Teh?” Gulam bertanya dengan perlahan, Nina yang masih menatapi
sedan hitam tersebut menggelengkan kepalanya, kemudian dengan bercucuran air
mata, Nina melambaikan kertas yang berjejalan di sebelah tangannya. Seolah-olah
berkata “tunggu...”
Gulam berhenti dan lalu
menunggu, sementara Nina berjalan masuk dengan gontai.
Tiga puluh menit berlalu, Gulam
sudah sampai pada batang rokoknya yang ke tiga, saat dengan tidak sabar ia
menyalakan batang rokok yang ke empat,
tiba-tiba isakan pendek sampai ke telinganya, dengan tersentak Gulam menoleh. Dan
rokok yang baru akan di nyalakannya terselip keluar dari bibirnya yang
menganga. Ambu berdiri di belakangnya sambil memeluk bungkusan hitam di
dadanya. Air mata membajiri pipi nya.
“Am-Ambu?” Gulam terbata
menyapa wanita tua di hadapannya.
“Nina bilang, suruh dia keluar
dari mobil..” isak Ambu pada Gulam. Tangannya yang bergetar menyodorkan kresek
hitam berisi bundalan kertas pada Gulam.
Gulam mengangguk lalu berbalik
dan berjalan menghampiri Mobil.
Terdengar seretan langkah Ambu
mengikutinya dari belakang.
Gulam mengutuki Kakak’nya dalam
hati. Membayangkan kehancuran hati wanita tua di belakangnya, dan juga Nina.
Gulam berjalan, dan terus
berjalan sampai ia berhenti di samping sedan hitam di ujung jalan. Ia mengetuk
pintu mobil. Saat Wandi dengan enggan keluar. Gulam mengangkat kresek tersebut
ke arah wajah kakaknya dengan kasar.
Bau tajam menyengat hidung
Gulam.
Sementara Wandi terpaku.
Dan teriakan “Nina!!” dari Ambu
membelah senyap.
Di belakangnya Nina berjalan ke
arah mereka dengan tenang. Sebuah senyum kecil menghiasi bibirnya, dan Merahnya
api melahap tubuhnya dengan rakus sementara asap hitam melarikan diri dari
panasnya kobaran ke pelukan birunya angkasa.
==//==
‘...kang Wandi tidak usah kawatir, walau saya menolak di
madu. saya sudah tanda tangani semua surat cerai. Jadi kang Wandi tetap bisa
menikah lagi dengan Murni, Walau bekas majikan, saya tahu dia begitu baik pada
akang.
Kang Wandi bilang cinta saya terlalu berat, kang Wandi
bilang cinta saya terlalu mengikat, kang Wandi bilang mencintai hanya saya
tidak membuat kang Wandi bahagia.
Saya ingin kang Wandi bahagia.
Mungkin cinta saya ini KELAK akan terbakar diam-diam oleh
waktu dan hanyut oleh cemburu yang lari bersama asap hitam, hingga menyisakan arang
ihklas dan sedikit sisa sisa debu benci di hati..
Jadi saya janji.. mulai besok saya tidak akan mencintai kang Wandi lagi.”
Sepotong kertas kusam berbau
tajam dengan coretan tangan yang memudar tiba-tiba terkepal dengan kasar dalam
genggaman.
Setetes air mata lolos dari
sudut mata.
Cinta pertamanya terbakar cepat.
Secepat api melalap tubuh wanita yang berbaring berbalut kain kasa dari ujung
kaki sampai kepala dihadapannya.
Gulam menyentuh bibir mungil
yang dulu merah dan kini menghitam dengan lembut.
Ditemani detik jam, deru mesin,
dan secarik kertas Gulam kembali menunggu dan kini... sedikit berharap.
---------------------
Versi "Love Stink" ku permintaan nenci ds, silahkan di nikmati selagi hangat...
---------------------
Versi "Love Stink" ku permintaan nenci ds, silahkan di nikmati selagi hangat...
Ish Love Sticknya menyedihkan! Kejamnya si Wandi itu!!!!!!!!!!!!
ReplyDeleteiyah emang kejam!! dan nina itu keren...
ReplyDeletebtw... base on true story loh. sediih...
gulam diam diam suka ma nina dan mau nunggu nina lupain si tai wandi. sorry harsh word. hoho.... sayangnya cerita ini gampang ditebak..
ReplyDelete