Friday, September 28, 2012
Sang Pujangga
Iri itu manusiawi katanya.. aku percaya.
dan Panjang suratmu sudah kubaca. Kesimpulanku, kau belum cinta, kau hanya jatuh cinta pada cinta.
Dalam suratmu kau berkata,
"Demi Galilea, demi Roma, demi Babilonia, Demi para dewa! Cinta yang kau sebut bukan hanya roman di atas kertas..."
Aku mengerutkan kening,
Galilea tanah berdarah, Roma terbakar, Babilonia hilang, sementara para Dewa tersapu oleh waktu...
Itu kah cintamu?
"Sinis!!" Kau tulis di halaman selanjutnya,
Aku mencoretnya dan mengantinya dengan,
"realistis" sederhana, tidak perlu kapital dan tanda seru.
Kau menunduk kalah, dan dengan lelah berhenti menulis..
Untuk 5 menit.
Kau membereskan serakan kertas dan memamerkan gigimu dalam seringai..
Lalu kau berbalik sambil berteriak
"Aku akan kembali, dengan surat cinta yang baru besok!"
Aku hanya menaikan sebelah alisku.
Kulipat suratmu dan kusimpan di kotak topi pemberianmu bersama 97 suratmu yang lain,
lalu kuhembuskan kembali rasa iriku pada sepi, Iri pada wanita lain yang mencintai pria bodoh.
Tidak sepertiku yang dengan bodohnya mencintai pria pintar.
Pria pintar yang kesulitan dalam mengatakan hal sederhana seperti "Aku mencintaimu" atau bahkan sekedar menuliskannya seperti biasa.
Aku tersenyum kecil,
Dan dengan tidak sabar menantikan esok hari. Menantikan suratmu!
Selamat malam sang pujangga..
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Udah pernah baca, Cha. Dan tetap selalu tersenyum simpul sambil menunggu surat berikutnya :))
ReplyDeletekekekeke, romantisme nya terbakar ya buu
ReplyDelete