Saturday, September 29, 2012
Egois
"Tiba tiba saja kau datang ke rumahku saat aku sedang akad nikah padahal rencanamu datang ke rumah untuk meminangku.. Apa yang akan kau lakukan?" ujar ku sambil menyeruput teh manis terlalu manis yang kubenci buatanmu.
"Duduk diam sambil memperhatikan wajahmu, jika kau tampak tak Bahagia, aku akan menerjang masuk dan merebutmu darinya!!!" jawabmu dengan penuh semangat sambil menggerak-gerakan tanganmu kesana kemari mengilustrasikan terjangan dan rebutan dalam kepalamu.
"Jika aku tampak bahagia?" balasku sambil mengulurkan tanganku untuk meraih kue tak berbentuk -yang dengan bersikeras kau namai kue keju kering-bertabur wijen yang kubenci buatanmu. dan memakannya.
"Menghampirimu, mengucapkan selamat karena kau akhirnya bahagia... Lalu menerjang dan merebutmu darinya!!" jawabmu pendek sambil mengangkat bahu seolah jawabmu bukan masalah penting.
"Egois, cintamu itu egois, sudah jelas aku bahagia bersamanya, kau tetap bersikeras merebutku?" tegurku pelan sambil melap serakkan tetesan air di atas meja yang datang dari gelas yang kau lambaikan kesana kemari.
"Cintaku memang egois dan aku akan tetap memperjuangkan keegoisan cintaku!!" kau menatapku dengan tatapan menantang, seolah menungguku membantah ucapanmu.
Aku mengalihkan pandangan mataku, dan membetulkan letak vas bunga yang kau senggol saat kau datang membawa nampan berisi gelas kita berdua dan sepiring kue keju wijen.
"Jika aku tidak bahagia bersamamu? Kau akan tetap memaksaku untuk tetap bersamamu?" aku menaikan sebelah alis ku sambil menyusun sepatu-sepatu yang kau tinggalkan berserakan di samping sofa.
"Aku dan cintaku akan membuatmu bahagia bersamaku!" jawabmu tegas.
Aku terhenti, dan bantal yang hendak kuatur letaknya di atas sofa terjatuh dari tanganku.
"Bagaimana kau bisa begitu yakin kau dan cintamu bisa membahagiakanku?" tanyaku dengan suara yang sedikit parau, sementara telapak tanganku yang berkeringat kusembunyikan dalam saku celana kerjaku yang kau belikan pada hari ulang tahunku delapan bulan yang lalu.
"Menikahlah denganku, akan kubuktikan sepanjang hidupku!" jawabmu sambil mendekatiku, berdiri di hadapanku dan lalu tersenyum yakin.
Aku menatap wajahmu, menatap kesekeliling ruangan berantakan yang kau sebut rumahmu, menatap gelas teh manis yang terlalu manis, menatap kue keju wijen tak berbentuk, menatap sepatu sepatu yang berserakan lalu kembali menatap wajahmu yang masih menunjukan keyakinan jawabanmu.
Aku bangkit, mengeluarkan tanganku dari saku, dan berkata
"Baik, Menikahlah denganku dan buktikan sepanjang hidupmu..." jawabku sambil menunduk dan menyodorkan sepasang cincin platinum yang sudah berada di saku celanaku sejak pertama kali aku membelinya delapan bulan yang lalu.
Hening...
Dengan kening berkerut aku mengangkat wajahku dan mendapatimu menatapku dengan mulut ternganga, pipi berlinangan air mata, dan tangan gemetar terulur ke arah cincin di atas telapak tanganku.
Aku mengangkat sebelah alisku lagi, dan kau menjawabnya dengan lari kedalam pelukanku sambil menangis dengan keras.
Menyembunyikan senyum kecilku dibalik rambutmu aku berkata tegas, "Jangan lupa... sepanjang hidupmu!"
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
"Menikahlah denganku, akan kubuktikan sepanjang hidupku!" <-- kalimat yang dinantikan semua perempuan nampaknya. :) *agak bingung sebenarnya ini cerita apa yak*
ReplyDeleteeva:cerita orang yang terlalu takud untuk mengungkapkan perasaannya jadinya manipulatif hehehehehehe apa mereun siga saha
ReplyDeleteevi: thank youuu
orangnya dicinta, tp hal2 kecil yg dia kerjain dibenci ya? :D hehehe kebencian yang dicintai..
ReplyDeletehehe yup yup kalo udah cinta yg di benci juga di sukai hehe
ReplyDeleteketahuan, yg cowo labil.. hahahaha....
ReplyDeletejiaaaah labil. bukan labil tapi gugup mereun fear of rejection... *tiba tiba curcol
ReplyDelete