Thursday, September 20, 2012
Kafe "Cinta"
23 november 2012
Pk. 15.24 WIB
Lampu merah itu berkelap kelip silih berganti dengan biru dan sesekali kuning dengan cepat, suasana romantis yang diharapkan pemiik ruangan dengan adanya tambahan lampu lampu tersebut, sudah sejak lama terpeleset jauh menjadi temaram dan suram. sudah tujuh tahun kafe tersebut berdiri, tapi tidak lebih dari limabelas orang pengunjung saja yang datang setiap malamnya. namun entah mengapa dengan tegar kafe “Cinta” itu tetap saja buka setiap harinya.
Onggokan kursi tua dan taplak yang lusuh di atas meja plastik merupakan pemandangan yang biasa, sebiasa tumpukan debu dan jaring laba labanya di sudut ruangan, sebiasa lantunan musik musik pop barat lawas yang sayup sayup terdengar dari radio butut di atas meja kasir, sebiasa wanita tengah baya yang duduk dengan anggun di tengah ruangan kafe tersebut, sikap anggun yang tampak bertolak belakang dengan pemandangan di sekitarnya, bahkan bertolak belakang dengan gaun merah pudar yang sedang di kenakannya. dengan kaki panjang yang dia silangkan di atas tumitnya, dan jari jemari lentik berwarna merah kehitaman yang menopang dagunya, wanita tersebut seolah-olah hantu yang muncul dari jaman keemasan kafe tersebut, -itupun jika ada kurun waktu yang bisa di sebut keemasan untuk kafe “Cinta”.
seorang pelayan muncul dan membawakan secangkir teh kayu manis kepada wanita tersebut, satu menu minuman yang anehnya bahkan tidak tercantum sama sekali di buku menu maupun pada papan kayu “Spesial” yang terpampang di depan kafe. tapi tidak seaneh pelayan tersebut, karena dari sejak kedatangannya hingga dia duduk dan menunggu di mejanya, tidak sekalipun Wanita tersebut berbicara atau bahkan memanggil pelayan, wanita itu kemudian hanya mengangguk pada pelayan yang menaruh minuman tersebut di hadapannya dan kembali memperhatikan jalanan,
suasana tampak hening dan syahdu, pemandangan kafe yang bersikeras di sebut kafe “Cinta” tersebut nampak seperti diambil dari potongan adegan film horor atau thriler bila dibandingkan dengan tempat makan bertemakan cinta lainnya. tempat makan bertema cinta lainnya yang bertebaran dengan padat di sekelilingnya seperti jamur yang meradang di tempat lembab.
tiba-tiba seorang wanita tengah baya lainya masuk dengan berisik ke dalam ruangan kafe, yang di maksud dengan berisik adalah gemerincing gelang gelang emas yang saling beradu di tangannya yang gempal. dengan mata yang tajam wanita tersebut memandang sekeliling kafe tersebut dengan padangan merendahkan -padangan merendahkan yang sama seperti saat dia datang ke kafe tersebut puluhan kali yang lalu. saat padangannya jatuh pada -kita sebut saja wanita bergaun merah. dengan pasti wanita itu berjalan kearahnya, setelah berdiri sekitar tiga menit untuk memeriksa gelas minuman yang tergeletak di meja tak tersentuh, kursi yang reot dan taplak meja yang lusuh wanita tersebut mendengus. dan duduk sambil berkata dengan lantang,
“Ningsih”
wanita begaun merah masih memperhatikan jalanan, dengan padangan setengah kosong, tampa menoleh diapun menjawab,
“Wati…”
Wati -wanita tengah baya dengan gelang gelang emas yang memenuhi setengah lengan gempalnya, sedang sibuk menaruh telepon genggamnya di meja, tas belanjaannya di lantai, dan tas yang di bawanya di kursi lain menoleh dengan tajam kearah Ningsih -wanita bergaun merah yang memperhatikan jalanan, saat mendengar namanya di sebut. Wati membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu saat tiba tiba sebuah cangkir di letakan di depannya oleh pelayan, dengan tajam Wati merilik cangkirnya, saat dia melihat gumpalan coklat kehitaman yang menggenangi cangkirnya -yang lagi lagi tidak ada di dalam menu maupun di papan “Spesial” di depan kafe, Wati menutup mulutnya dan mengangguk kearah pelayan tersebut. Wati pun duduk bersandar di kursinya sambil memperhatikan Ningsih yang terdiam memperhatikan jalanan.
suasana Kafe “Cinta” kembali hening dan syahdu sambil ditemani oleh lantunan musik pop barat lawas yang sayup-sayup terdengar dari radio butut di atas meja kasir.
———————————————————-
Pelayan tua tersebut mengusap gelas yang di pegangnya sudah lebih dari duaratus kali, gadis muda yang duduk di meja kasir memperhatikan, semenjak wanita cantik tengah baya bergaun merah datang, hingga kini wanita gempal tengah baya lainnya duduk disampingnya. dengan penasaran gadis tersebut memhampiri pelayan tua tersebut, gadis muda tersebut baru bekerja di kafe “Cinta” dua minggu, dan dia tidak mengenali semua pengunjung lama.
“Pak, bapak kenal?”
Pelayan tua tersebut berhenti mengusap gelas dengan terkejut, namun tidak mengangkat kepalanya dan menatap gadis tersebut, saat beberapa saat kemudian tak ada suara yang keluar dari gadis muda tersebut, dengan perlahan pelayan tua tersebut mengangkat wajahnya. dia mendapati gadis muda tersebut berdiri di sampinya sambil menghadap kearah dua wanita yang duduk di tengah ruangan, pelayan tua tersebutpun ikut melayangkan pandangannya ke arah mereka.
“berkawan yah mereka?”
Pelayan tua tersebut mengernyitkan keningnya, dia sudah tujuh tahun bekerja di kafe tersebut, dan otaknya yang sudah cukup tua dengan susah payah mencoba mengingat, apakah mereka berdua itu berkawan,
“DASAR BABI TUA…”
“….DASAR LONTE”
atau tidak, dengan pelan dan tidak yakin pelayan tua itu menggelengkan kepalanya,
“tidak, bukan kawan”
lalu kembali menunduk dan mengusap gelasnya, tanpa menyadari gadis muda di sampingnya mengagguk-ngguk sambil mengernyitkan dahinya.
———————————————————-
PK 17.47 WIB
Wati meraih cangkirnya bersamaan dengan Ningsih mengangkat cangkir miliknya, tampak berkata- kata mereka menyeruput minuman mereka yang sudah dingin dan kembali pada rutinitas, di mana Ningsih memperhatikan jalanan dan Wati memperhatikan Ningsih. sudah lima tahun mereka saling kenal, mereka tidak pernah saling berbicara banyak selain dari beberapakali saat mereka bertemu.
“heh, KAMU yang tidur sama lelaki orang yah, perempuan macam apa kamu?” Teriak Wati sambil sesekali butir butir ludahnya terjur kearah wajah Ningsih. Ningsih hanya menatap mata Wati sambil tersenyum kecil,
“heh, kamu… yang lelakinya tidur sama orang lainnya, PEREMPUAN macam apa kamu?” jawab Ningsih dengan tenang.
“eh, perempuan murahan, lancang kamu… dasar hina”
“perempuan jual mahal, berisik… pantas di tinggal lakinya tidur sama perempuan lain”
“dasar anjing betina kudisan, ngangkang buat tiap jantan yang menghampiri”
“DASAR BABI TUA, coba pikir sendiri kenapa situ punya laki beli perempuan hah!!”
“coba situ yang mikir, mau maunya jual diri demi uang, DASAR LONTE”
“saya memang lonte, terus situ maunya apa hah?! mau beli saya juga kaya suami situ tiap malam??”
Wati dan Ningsih kemudian bergumul di lantai kafe… sambil saling tendang dan cakar. sesekali makian dan kata kasar terdengar, butuh lima orang pegawai kafe untuk melerai mereka berdua, dan tiga orang penjaga keamanan bertubuh besar untuk menahan tubuh mereka agar tidak saling menerjang lagi -tiga orang per satu tubuh wanita, malam itu adalah malam yang paling ramai yang pernah kafe “Cinta” alami.
setelah dentingan cangkir menyentuh piring saat di letakan terdengar dan seolah memantul di ruangan yang sepi pengunjung tersebut suasana Kafe “Cinta” kembali hening dan syahdu sambil ditemani oleh lantunan musik pop barat lawas yang sayup sayup terdengar dari radio butut di atas meja kasir.
———————————————————-
Pemuda tegap tersebut membolak balik korannya untuk kesekian kali, pelayan muda tersebut sudah lima tahun bekerja di kafe “Cinta” dan sedang memikirkan untuk mencoba pekerjaan lain. gadis muda dari meja kasir sedari tadi memperhatikan dari tempatnya berdiri di samping pelayan tua. dan dengan perlahan gadis tersebut menghampirinya.
“kok tanpa mereka pesan mas sudah bawakan pesanannya? sering mereka kesini mas?” tanya gadis tersebut, sang pelayan muda terus membalikan korannya tanpa menoleh ke arah gadis tersebut.
“Setiap tanggal dua puluh tiga, pukul tiga,” jawabnya otomatis, “kopi kayu manis tanpa kopi ganti teh, dan susu coklat tanpa susu campur kopi”
gadis muda tersebut meringis membayangkan rasa minuman tersebut sambil diam diam melirik kearah kedua wanita tersebut.
“oh, tiap bulan toh” ujarnya pelan. “pantas… kata bapak mereka bukan kawan… musuhan tapi ketemu tiap bulan secara rutin yah…”
“tiap bulan kecuali dua tahun belakangan ini,” sambil mendecak pelayan muda melirik ke arah dua wanita tersebut,
“Wati, Wati…kok malah kamu yang Marah”
“shhh… Ningsih malah kamu yang mewek sih”
“dan bukan musuh…” gumannya.
pelayan muda tersebut lalu terdiam, dan tiba tiba menggelengkan kepalanya sambil kembali menekuri koran di hadapanya, gadis muda teresebut mengeritkan dahinya semakin dalam mendengar jawaban si pelayan muda. dan menatapi kedua Wanita tersebut dengan bingung.
———————————————————-
PK 20.19 WIB
Wati mengetukan jemarinya di atas lengannya yang terlipat di dada, diam diam tanpa dia sadari mengikuti lantunan melodi yang terdengar sayup sayup belakangnya, sementara kaki Ningsih bergoyang goyang mengikuti ketukan lagu. masih belum ada sepatah kata pun yang terlontar di antara mereka berdua, mata Wati yang tajam dengan teliti memeriksa Ningsih, memeriksa rambut panjangnya yang legam menjuntai layu, dan wajahnya yang tanpa noda berkerut di makan usia. tubuhnya yang sintal dan padat tampak kecil dan kering di balut gaun merah pudar yang sekarang tampak longgar. tapi bibir mungil yang tampak lembut itu masih tampak sama, sinis, getir dan merah tak pudar oleh usia. Wati mendengus dan meraih cangkirnya, dengan pelan dia meminum cairan kental yang seolah mengelincir masuk ke kerongkongannya sambil menyembunyikan senyumnya.
di sudut matanya Ningsih memperhatikan Wati sambil mengangkat cangkir minumannya, memperhatikan tubuh gempalnya di balut kain batik mahal bermerk, meperhatikan kerut kerut lelah di keningnya, dan kaki kakinya yang tampak berurat karena banyak di pakai berdiri dan berjalan kesana kemari tiap harinya. tapi mata Wati yang kecoklatan terang tidak berubah tetap sinis, getir dan tajam tak pudar oleh usia. Ningsih mengangkat sudut bibirnya dan menyembunyikan senyum di balik cangkir minumannya
“Bangsat” teriak Wati sambil memukulkan tasnya yang berat ke arah pria yang kini tergeletak di lantai kafe, kehilangan kesadaranya. tubuh pria itu memar dan biru biru, matanya bengkak dan hitam, sementara sudut bibirnya berdarah.
“Wati, apa apaan kamu ini! cukup! berhenti! WATI!!” Ningsih memeluk kaki Wati dan menatap ke atas, ke arah wajah Wati yang memerah karena amarah, rambut Wati yang biasanya tergelung rapi buyar dan tercerai ke sana kemari di atas sanggulnya.
“Sampah… sampah… laki laki ini sampah, tidak cukup dia membeli perempuan diluar ranjang pernikahannya, sekarang di ringan tangan, pukul sana pukul sini!!” teriak Wati emosi, wajah Ningsih memucat.
“Di.. dia … kamu Wati?” tanya Ningsih pelan,
Wati mendengus jijik, “HAH!! mana berani dia pukul aku, aku yang cari duid, yang kasih makan, yang bikin rumah, aku yang bekerja!!” dia lalu menatap kebawah kearah wajah Ningsih yang membiru dan bibirnya yang berdarah, dan kembali mendengus sambil memalingkan wajahnya.
Ningsih tertegun dan menyadari sumber kemarahan Wati kepada suaminya, sambil menyentuh luka di bibirnya Ningsih tertawa pahit,
“aku ini pelacur Wati, Lonte.. aku sudah biasa di pukuli laki laki, lagian aku kan yang di pukuli, Wati, Wati… kok kamu yang marah?”
suasanan kafe yang walau sepi sempat gaduh karena adegan pemukulan tiba tiba menjadi hening, Wati terduduk di kursinya dengan perlahan, sambil meraih cangkir minumannya di meja dengan tangan gemetar. semua orang tampak menunggu jawaban Wati, termasuk Ningsih yang masih duduk di lantai sambil memeluk kaki Wati.
“aku kok yang mukul duluan..” sambung Ningsih memecah keheningan, Wati hampir tersedak mendengar pernyataan Ningsih. Wati mengangkat alisnya sebelah sementara Ningsih hanya mengangkat bahunya,
“laki laki kok ada yang kayak gitu… ngata ngatain dan nyumpahin istri sendiri mandul!” omel Ningsih emosi.
“Ningsih..”
“udah ga punya kerjaan..”
“Ning…”
“Hidup dari uang keringat istri…”
“Ningsih…”
“Selingkuh sana sini…. eh, sempet pula nyumpahin istri!”
“Ningsih… aku memang kosong”
Ningsih perlahan menoleh ke arah Wati yang sedang menatap wajahnya dengan wajah datar, matanya yang tajam seolah menusuk Hatinya.
“…kosong? tapi… itu dua anak kamu, yang di rumah anak siapa?” mata Ningsih seolah tertusuk tusuk dan tiba tiba panas, saat masih dengan tenang Wati minum dari cangkirnya,
“anak dari simpenannya, aku pungut jadi anakku!” ujar Wati, mulut Ningsih terbuka dan tertutup tanpa mengeluarkan suara mendengar jawaban Wati.
“Tapi… kamu… nampak sayang sekali sama mereka?” Mata yang tadinya hanya panas, tiba tiba banjir dan meleleh saat Ningsih melihat Wati menghela nafas dan meletakan cangkirnya,
“sih Ningsih… aku ini Mandul, bukan berati aku bukan perempuan, tentu saja aku sayang sama anak anakku biarpun itu bukan dari rahimku sendiri, loh!! shhh… Ningsih malah kamu yang mewek sih!!” ujar Wati sambil tersenyum melihat Ningsih segukan di lantai sambil menangis dengan keras, tersenyum semetara lelehan panas ikut membanjiri pipinya.
suasana Kafe “Cinta” tetap hening dan syahdu sambil ditemani oleh lantunan musik pop barat lawas yang sayup sayup terdengar dari radio butut di atas meja kasir
———————————————————-
juru masak kafe “Cinta” dulunya merupakan juru masak andalan di hotel berbintang, namun karena persaingan tidak sehat anak pemilik hotel yang baru lulus sekolah perhotelan jurusan dapur, dia didepak dengan tidak hormat dengan tuduhan pencurian. dia hanya bisa menggelengkan kepalanya saat kesetiannya selama sembilan tahun kalah oleh ucapan bocah lulusan jurusan dapur yang bahkan tidak bisa membedakan kunyit dan laja. dia mengepak barang-barangnya dan angkat kaki sambil mendoakan kesuksesan hotel tersebut yang sekarang menurut kabar telah gulung tikar akibat kasus keracunan makanan penghuni hotel.
sekarang juru masak yang telah bekerja di kafe selama tiga tahun itu sedang mengaduk ngaduk air panas di hadapannya sejak setengah jam yang lalu, gadis muda yang sedang duduk di samping pelayan muda memperhatikan. dan dengan perlahan gadis muda tersebut menghampirinya.
“kawan bukan… musuh bukan… lalu kira kira apa hubungan mereka yah” tanya gadis muda tersebut,
juru masak hanya menghela nafas, dia tidak peduli apa hubungan kedua wanita tersebut, selama mereka datang dan membeli, lagipula selama ada kedua wanita tersebut kafe “Cinta” tempatnya bekerja tidak pernah membosankan,
“23 bulan… Ningsih, aku beri waktu selama itu untuk kamu-”
“jawaban aku akan tetap sama Wati, aku sudah memutuskan…” Ningsih melirik ke arah Wati yang mengepalkan kain pakaian di atas dadanya seolah ucapan Ningsih menyakiti hatinya, Wajah Wati pucat pasi. dan bibirnya gemetar.
“tapi… ini masalah kecocokan, tidak semudah itu, ada banyak sekali yang harus dilakukan…” Wati mengangkat tangannya yang ikut gemetar dan menghitung dengan jemarinya. “misalnya satu…”
Ningsih meraih tasnya dan mengeluarkan sebundel kertas lalu membeberkannya di atas meja, Wati meraih kertas terdekat dan membacanya dengan mata berkaca kaca.
“…aku… sudah iklas Ningsih, aku…”
“aku tidak!”
“… 23 bulan… lalu, Aku memohon padamu, pikirkan selama 23 bulan…” ujar Wati lirih.
semembosankan dua tahun belakangan saat mereka berdua tidak pernah datang ke kafe, juru masak menggelengkan kepala lagi dan mendorong gadis muda tersebut dengan lembut keluar dapur, gadis muda tersebut menghela nafas dan lalu berjalan dengan gontai ke meja kasir
———————————————————-
Suatu waktu,
dua puluh delapan bulan yang lalu
“panjang hasilnya ti?”
“Pendek, lagian udah tahu juga hasilnya kok Ning?”
“jadi kenapa?”
Wati memalingkan wajahnya
“kamu bayak uang, tinggal ganti Ti”
“ga semudah itu Ning, ini soal kecocokan, belum banyak hal yang harus di lakukan….”
hening
“kalau mau tau cocok cocokannya gimana?”
“periksa ke Iwan”
“Iwan adik kamu itu? kok bisa?”
“yah memang itu keahliannya”
“huh, orang kaya memang beda, tinggal sekolah trus bisa tau cocok cocokan”
tawa lalu hening
“aku mau di priksa Iwan juga!”
“buat apa Ning?”
“Biar tahu aku cocok ga sama kamu Ti!!”
Wati menangis sementara, Ningsih tertawa berusaha menghibur Wati.
———————————————————-
PK 22.00 WIB
telepon genggam Wati tiba-tiba bergetar dengan berisik, Wati hanya melirik benda tersebut lalu membalikan nya, sebelum terbalik Ningsih sempat melihat gambar kedua anak Wati menyeringai ke arahnya, dan lagi-lagi hatinya seolah tertusuk.
“jawabanku masih tetap sama dengan dua puluh tiga bulan yang lalu Wati!!” ujar Ningsih yang dengan pasti mengalihkan pandangannya dari jalanan, cangkirnya sudah lama kosong, dan udarapun sudah semakin dingin. tanpa berkata-kata Wati merogoh kantong belanjaannya dan menarik pasmina merah yang tanpak mahal dari dalam kantong dan mengulurkan tangannya ke arah Ningsih, Ningsih menatap pasmina itu dengan pandangan bertanya-tanya, kenapa Wati selalu memberinya benda benda berwarna merah,
“untuk memberikan peringatan pada perempuan perempuan lain” jawaban Wati saat pertama kali mereka bertemu.,
“untuk menghalau lelaki lelaki lain” jawaban Wati saat mereka bertemu kemudian,
“agar warnannya selalu mengingatkan aku padamu” jawaban Wati terakhir kali mereka bertemu.
Sekarang Ningsih tidak berani mengeluarkan pertanyaan yang sama,
Wati menunggu Ningsih menarik pasmina tersebut dan melilitkannya di pundaknya lalu kembali menyandarkan tubuhnya di kursi. cangkirnya sudah lama kosong dan tubuhnya gemetar, bukan karena udara yang semakin dingin tetapi oleh hatinya yang seolah di tusuk tusuk. mereka berpandangan sama seperti saat mereka pertama kali bertemu lima tahun yang lalu. setelah beberapa lama saling berpandangan Wati mengangguk dengan kaku, bibirnya terkatup rapat. sambil membereskan barang barangnya, setelah menaruh cukup uang untuk 12 cangkir minuman, Wati bangkit dan melangkah pergi diikuti dengan gemerincing gelang emas yang beradu di tangannya yang gempal. di depan pintu Wati berhenti dan melirik ke arah Ningsih untuk yang terakhir kalinya.
“Nanti Iwan yang akan menghubungi kamu” ujarnya lirih
lalu cepat cepat membalikan wajahnya sebelum Ningsih melihat lelehan panas membanjiri pipinya, dan melangkah pergi sambil berlinangan air mata.
suasana Kafe “Cinta” yang hening dan syahdu sambil ditemani oleh lantunan musik pop barat lawas yang sayup sayup terdengar dari radio butut di atas meja kasir, terusik oleh gemerincing gelang emas yang semakin lama semakin menjauh ke arah jalan dan isakan tangis yang semakin lama semakin keras di tengah ruangan.
———————————————————
Suatu waktu,
Dua puluh tiga bulan yang lalu.
“kalau soal uang kamu jangan kawatir, aku sudah menyiapkan tabungan khusus buat kamu Ning” Wati melirik Ningsih yang sedari tadi melihat ke arah jalanan sambil terdiam.
“aku sudah ketemu Iwan” jawab Ningsih datar, Wati terkejut dan menatap Ningsih dengan takut. tapi Ningsih masih menatap jalanan,
“bu.. buat apa Ning?” tanya Wati dengan lirih, matanya yang biasanya tajam tertunduk, sementara Ningsih menatapi wajah pucat Wati.
“anak-anakku masih butuh ibunya, dengan begini kita bisa membesarkan mereka berdua” jawab Ningsih sambil meraih tangan Wati
“tapi… aku bukan ibu mereka..” elak Wati, Ningsing mencengkram tangan Wati,
“Omong kosong!! aku cuma perempuan yang kebetulan melahirkan, tapi kamu ibu mereka Wati… KAMU!!” Ningsing melonggarkan cengkramannya lalu tersenyum sedih. “mereka butuh kamu Wati, mereka masih kecil… sedangkan aku… aku tidak butuh, aku cuman pelacur..”
hening
“23 bulan… Ningsih, aku beri waktu selama itu untuk kamu-”
“jawaban aku akan tetap sama Wati, aku sudah memutuskan…” Ningsih melirik ke arah Wati yang mengepalkan kain pakaian di atas dadanya seolah ucapan Ningsih menyakiti hatinya, Wajah Wati pucat pasi. dan bibirnya gemetar.
“tapi… ini masalah kecocokan, tidak semudah itu, ada banyak sekali yang harus dilakukan…” Wati mengangkat tangannya yang ikut gemetar dan menghitung dengan jemarinya. “misalnya satu…”
Ningsih meraih tasnya dan mengeluarkan sebundel kertas lalu membeberkannya di atas meja, Wati meraih kertas terdekat dan membacanya dengan mata berkaca kaca.
“…Aku… sudah iklas Ningsih, aku…”
“Aku tidak!”
“… 23 bulan… Aku memohon padamu, pikirkan selama 23 bulan…” ujar Wati lirih. “aku sudah rela melepas nyawa ini, jangan buat aku mencabut nyawamu juga…..”
“Aku tidak RELA melepas nyawamu…” jawab Ningsih berlinang air mata
“… jadi AKU harus Rela mencabut nyawamu dan mengambil hidupmu begitu??” teriak Wati sambil mencucurkan air matanya juga.
Ningsih berbegas memeluk Wati, dan merekapun menangis berdua, hingga lama kelamaan hanya tinggal tersisa isakan kecil dan lalu terhenti sama sekali. tiba tiba Ningsih berbisik lirih
“…kamu tidak mengambil hidupku, anggap saja aku pinjamkan jantungku ini padamu, agar kita bisa menjalani hidup kita berdua… walau hanya satu tubuh”
suasana Kafe “Cinta”pun kembali hening dan syahdu sambil ditemani oleh lantunan musik pop barat lawas yang sayup sayup terdengar dari radio butut di atas meja kasir.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Sialan! Udah baca panjang-panjang ternyata monolog. Ishhhhh ...... hehehehee. Bikin senewen akh.
ReplyDeletehiks iyah panjang benul ga kerasa nulisnya kerasa pas bacanya kali yah, kenapa senewen ih?
ReplyDeleteKirain apa gitu. Pfftt. Ternyata aakhhhh :))
ReplyDeletekalo malam itu dirimu menghasilkan "perjalanan" malam itu aku menghasilkan "kafe cinta"
ReplyDeleteini loh yang di ku'maksud buat cerita berbarengan mengenai satu tema huhuhuhuhu
Tapi kan itu temanya berbeda ... rupanya dirimu bikin juga. Hehehehe. Btw mana "Love Stink" versi u, cha? Gw udah bikin dah baca? nyeh nyeh nyeh banget ga sik :D
ReplyDelete